“Kalau ingin meramaikan Kembang Jepun, daerah pertokoan itu dikasih tulisan Bahasa China dan Indonesia. Sehingga, akan menjadi tempat wisata sendiri dan tidak mati,” ujar Cak Eri, panggilan akrabnya.
Cak Eri menegaskan Pemkot Surabaya tidak bisa sendiri dalam menggeliatkan destinasi wisata Kampung Pecinan. Untuk itu, dibutuhkan dukungan dan peran serta para pemilik usaha atau pertokoan di wilayah setempat.
“Jadi, membangun Surabaya itu butuh gotong-royong, karena tidak mungkin pemerintahnya sendiri. Kawasan-kawasan itu ingin kami bangun dengan bantuan para pemilik,” tuturnya.
Cak Eri juga berharap para pemilik usaha di Kampung Pecinan bisa beroperasi sampai malam. Namun, apabila beroperasi sampai sore, ia berharap di depan toko mereka saat malam hari bisa digunakan sebagai lapak UMKM.
“Tapi, saya berharap toko bisa buka sampai malam. Sehingga, ada keuntungan lebih yang bisa didapat seperti di Jalan Tunjungan,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan bahwa sampai hari ini, pemkot terus menggiatkan pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata.
“Kota ini sangat kaya dengan artefak dan sejarah. Tentunya dengan bangunan-bangunan yang melekat di Surabaya dan salah satunya di kawasan Kembang Jepun,” kata Wiwiek.
Menurut Wiwiek, banyak spot-spot wisata yang bisa dioptimalkan di kawasan Kampung Pecinan Surabaya, mulai dari Jalan Slompretan, Jalan Bongkaran, Jalan Karet hingga Jalan Kembang Jepun Surabaya.
“Untuk itu, kami akan mengoptimalkan kembali keberadaan spot-spot ini menjadi lebih baik. Targetnya akhir November 2023 bisa selesai,” ujarnya.
Komentar