Seputar Publik / Opini

Cerpen AI Masuki Babak Baru Sastra Indonesia, Eksperimen Maspril Aries Buka Perdebatan soal Kreativitas

Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)
Buku kumpulan cerpen berbasis Artificial Intelligence (AI) karya Maspril Aries, “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, menjadi salah satu eksperimen baru dalam perkembangan sastra Indonesia. Buku kumpulan cerpen berbasis Artificial Intelligence (AI) karya Maspril Aries, “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, menjadi salah satu eksperimen baru dalam perkembangan sastra Indonesia.

Pengalaman Maspril Aries selama puluhan tahun sebagai wartawan tentu berpengaruh ketika ia menyunting karya-karya tersebut. Kemampuannya menyusun kata untuk berita, buku, maupun materi pelatihan jurnalistik membuat sejumlah bagian dalam cerpen mengalami perubahan dari kalimat yang terasa seperti hasil mesin menjadi tulisan yang lebih mengalir.

Deskripsinya menjadi lebih lengkap, unsur manusianya lebih terasa, dan pesan moral dalam sejumlah cerita menjadi lebih kuat.

Dengan bahasa sederhana, cerpen-cerpen tersebut setelah melalui proses penyuntingan terasa seperti sudah “tidak kentara logatnya”.

Menurut saya, salah satu hal yang membuat karya sastra menarik adalah kemampuannya menjadi pernyataan perasaan, akal, dan pikiran melalui kata, kalimat, serta ungkapan yang orisinal dan intim.

Sastrawan besar biasanya memiliki ciri khas tertentu yang membuat pembacanya dapat mengenali karya tersebut. Seolah-olah isi kepala dan cara berpikir penulis sudah akrab dengan pembacanya.

Menilai Mana yang Terasa Lebih Manusiawi

Cerpen Perempuan di Tengah Labirin Mal, yang menjadi judul buku, menurut saya tergolong karya yang sudah mendekati karakter tulisan manusia.

Tulis Komentar

Komentar