Seputar Publik / Opini

Cerpen AI Masuki Babak Baru Sastra Indonesia, Eksperimen Maspril Aries Buka Perdebatan soal Kreativitas

Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)
Buku kumpulan cerpen berbasis Artificial Intelligence (AI) karya Maspril Aries, “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, menjadi salah satu eksperimen baru dalam perkembangan sastra Indonesia. Buku kumpulan cerpen berbasis Artificial Intelligence (AI) karya Maspril Aries, “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, menjadi salah satu eksperimen baru dalam perkembangan sastra Indonesia.

Di dunia jurnalistik, sudah terdapat pedoman mengenai penggunaan AI dalam karya jurnalistik. Sementara dalam dunia sastra, pertanyaan mengenai batas penggunaan AI, kepemilikan karya, pengakuan terhadap kontribusi manusia, dan etika publikasi masih menjadi ruang diskusi yang berkembang.

Pertanyaannya kemudian adalah: apakah penggunaan AI akan dijelaskan secara terbuka oleh pembuat karya, atau justru menjadi sesuatu yang disembunyikan ketika karya tersebut dipublikasikan dan diklaim sepenuhnya sebagai hasil olah rasa, pikiran, serta imajinasi pribadi?

Sastra Indonesia Memasuki Babak Baru

Buku Perempuan di Tengah Labirin Mal patut dilihat sebagai salah satu eksperimen yang menarik dalam perkembangan sastra Indonesia.

Dunia sastra tampaknya sedang memasuki babak baru ketika teknologi AI mulai hadir dalam proses penciptaan maupun penyuntingan karya.

Mungkin cerpen-cerpen tersebut masih dapat ditempatkan sebagai karya sastra populer. Namun kehadirannya tetap penting untuk dibicarakan karena menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah memasuki ruang kreatif yang selama ini sangat dekat dengan ekspresi manusia.

Masyarakat sastra dan para penggemar sastra menurut saya perlu membuka diri terhadap perkembangan tersebut sekaligus tetap kritis dalam melihat persoalan orisinalitas, proses kreatif, dan identitas pencipta.

Tidak perlu berlebihan dalam melihat AI semata-mata sebagai ancaman terhadap eksistensi karya orisinal manusia. Teknologi adalah bagian dari perkembangan zaman yang harus dipahami, diuji, dan diadaptasi.

Pada akhirnya, bagaimana teknologi tersebut digunakan, bagaimana proses kreatif dijelaskan, dan bagaimana karya dihargai tetap menjadi pilihan masing-masing.

Wallahu a'lam bishawab..

*Penulis; Hendry Ch Bangun (FWK)

Tulis Komentar

Komentar