Namun bagi pembaca yang terbiasa menikmati karya sastra, ada sesuatu yang terasa berbeda dari karya tersebut. Ada bagian-bagian tertentu yang terlihat “agak beda” dibandingkan karya sastra yang sepenuhnya lahir dari pengalaman manusia—dengan kompleksitas kehidupan, pengalaman, serta berbagai dinamika kemanusiaan di dalamnya.
Ketika dibaca untuk kedua kalinya, bahkan diulang beberapa kali, mulai terasa bagian-bagian tertentu berupa kata, kalimat, atau deskripsi yang menurut saya memiliki karakter bahasa standar mesin.
Hal itu mungkin lebih mudah dirasakan oleh pembaca yang juga terbiasa menggunakan AI untuk berbagai keperluan.
AI dan Kemudahan Membuat Karya
Tidak terlalu mengherankan jika aplikasi AI mampu menghasilkan tulisan dengan cepat. Teknologi tersebut bekerja berdasarkan kumpulan data dan pola bahasa yang sangat besar, kemudian menghasilkan respons berdasarkan instruksi atau prompt yang diberikan pengguna.
Misalnya, seseorang meminta dibuatkan cerpen mengenai seorang laki-laki dan perempuan yang pernah berpacaran ketika kuliah, kemudian berpisah, masing-masing menikah, bercerai, lalu bertemu kembali setelah 16 tahun dan akhirnya mendapatkan akhir cerita bahagia.
Komentar