Hal serupa saya rasakan ketika membaca Bayang-Bayang di Tepian Sungai Musi. Saya menangkap emosi dan pesan moral yang terasa seperti karya sastra yang lahir dari pengalaman manusia.
Sementara itu, Jatuh Cinta di Toko Buku, Seharfiah Itu menurut saya masih memperlihatkan sejumlah bagian yang terasa sebagai kalimat AI, terutama dalam beberapa deskripsi dan dialog tokohnya.
Tentu saja saya bisa keliru dalam menilai.
Saya belum banyak membaca karya sastra yang dibuat dengan bantuan AI. Mungkin setelah membaca puluhan, ratusan, bahkan ribuan karya, kemampuan pembaca untuk membedakan pola bahasa AI dengan karakter bahasa seorang sastrawan akan semakin terasah.
Kejujuran tentang Proses Kreatif
Satu hal yang menurut saya patut dicatat dari buku Maspril Aries adalah keterbukaan mengenai proses pembuatannya.
Ia menyatakan bahwa dirinya berperan sebagai penyunting, bukan pembuat asli seluruh karya, kemudian melakukan penyuntingan agar cerita tersebut lebih layak dibaca sebagai cerpen.
Keterbukaan semacam ini penting ketika teknologi AI semakin banyak digunakan dalam proses kreatif.
Komentar