Seputar Publik / Berita

Kebun Kopi Ijen, Warisan Lebih dari Seabad yang Terus Menghidupi Masyarakat

Dari jejak perkebunan era kolonial hingga pengelolaan PTPN I saat ini, kopi Ijen menjadi perpaduan sejarah, ekonomi, pengetahuan, dan ekosistem yang terus memberi kehidupan di lereng Pegunungan Ijen.
Hamparan kebun kopi di lereng Pegunungan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Lebih dari sekadar komoditas, perkebunan kopi menjadi bagian dari sejarah, mata pencaharian masyarakat, pengetahuan lintas generasi, sekaligus ekosistem yang terus dijaga. Hamparan kebun kopi di lereng Pegunungan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur. Lebih dari sekadar komoditas, perkebunan kopi menjadi bagian dari sejarah, mata pencaharian masyarakat, pengetahuan lintas generasi, sekaligus ekosistem yang terus dijaga.

Seputarpublik.com || BONDOWOSO — Di lereng Pegunungan Ijen, kopi bukan sekadar tanaman. Ia merupakan bagian dari sejarah panjang, pengetahuan, pekerjaan, lingkungan, sekaligus sumber penghidupan masyarakat yang telah tumbuh dan berkembang selama lebih dari satu abad.

Jejak itu dapat ditelusuri sejak sekitar dekade 1890-an, ketika Gerhard David Birnie, seorang pengusaha asal Belanda, membangun perkebunan kopi Arabika di lereng Gunung Ijen, Bondowoso, Jawa Timur.

Sejumlah literatur juga menyebut Birnie mengembangkan tanaman tembakau. Komoditas yang dikelola perusahaan perkebunan Belanda tersebut kemudian mengalami perubahan pengelolaan setelah dinasionalisasi pascakemerdekaan Indonesia dan kini menjadi bagian dari ekosistem PTPN Group melalui PTPN I.

Pada masa itu, kawasan lereng Ijen dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut bukanlah wilayah yang mudah dijangkau. Infrastruktur jalan dan akses menuju kawasan tersebut masih terbatas.

Tulis Komentar

Komentar