Pramono menilai, salah satu kekuatan utama masyarakat Betawi adalah karakter egaliter yang telah tumbuh sejak lama. Sejak dahulu, Jakarta tidak mengenal sistem kerajaan atau kesultanan, sehingga nilai kesetaraan menjadi ciri khas yang membedakan masyarakat Betawi.
“Inilah kekuatan masyarakat Betawi. Kalau bisa dipersatukan, ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi Jakarta,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pramono mengingatkan bahwa persatuan masyarakat Betawi juga merupakan amanah konstitusional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta, yang menetapkan budaya Betawi sebagai budaya utama Jakarta.
“Saya sungguh berharap, mudah-mudahan di era saya, Majelis Kaum Betawi ini bisa betul-betul bersatu. Saya memang dilahirkan di Kediri, tetapi sebagai Gubernur Jakarta, saya berkeinginan masyarakat Betawi menjadi kuat di tanahnya sendiri,” kata Pramono.
Haul MH Thamrin tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh Betawi, antara lain H. Nachrowi Ramli, HM Nuh, H. Supli Ali, H. Beky Mardani, H. Zainuddin (H. Oding), H. Riano P. Ahmad, Sylviana Murni, serta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto, Wali Kota Jakarta Pusat H. Arifin, Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainah, dan Kepala Dinas Kominfotik DKI Jakarta Budi Awaluddin.
Komentar