Selain persoalan lingkungan, kondisi rumah adat turut menjadi perhatian. Sejumlah atap rumah dilaporkan mengalami kebocoran akibat tingginya harga bahan ijuk, sehingga perbaikan belum dapat dilakukan secara optimal. Fasilitas umum seperti lumbung padi (leuit), tempat mandi, mushola, serta bangunan adat lainnya juga memerlukan perbaikan.
Di tengah berbagai keterbatasan, masyarakat adat menegaskan tetap memegang teguh nilai-nilai tradisi, termasuk prinsip tidak meminta bantuan secara langsung. Namun demikian, mereka terbuka terhadap dukungan yang diberikan secara sukarela selama tidak bertentangan dengan adat istiadat.
Dari sisi ekonomi, masyarakat berharap adanya dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan melalui pengembangan sektor pertanian dan peternakan. Komoditas seperti pala, kopi, kelapa kopyor, serta tanaman hortikultura dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan, termasuk melalui metode modern seperti greenhouse.
Generasi muda di Kampung Adat Naga juga menunjukkan minat dalam pengembangan peternakan dan perikanan, seperti budidaya ayam, domba, dan ikan air tawar. Namun, keterbatasan modal dan akses pemasaran masih menjadi kendala utama.
Selain itu, keterbatasan lahan garapan yang hanya sekitar 11 hektare menjadi tantangan tersendiri karena berdampak pada produksi dan ketahanan pangan masyarakat.
Masyarakat berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah serta para pemangku kepentingan untuk membantu perbaikan infrastruktur, penguatan ekonomi, dan penataan kawasan secara berkelanjutan, tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.(Rd/*)
Komentar