Persoalan menjadi perhatian karena seorang anak yang menurut keterangan orang tuanya tidak terlibat dalam perkara pengeroyokan tersebut disebut ikut terseret dalam arus informasi di media sosial.
Orang tua siswa tersebut mengaku dirinya bersama keluarga turut menjadi sasaran hujatan di ruang digital.
“Saya dan keluarga di-bully di media sosial. Anak saya juga menjadi korban pengeroyokan di media sosial, padahal anak saya tidak terlibat dalam pengeroyokan itu. Ini sudah tidak benar. Kami hanya berserah diri kepada Ilahi Rabbi, Allah SWT. Semoga mereka yang melakukan ini mendapat hidayah, insaf dan bertobat dari iri, dengki dan fitnah,” ujarnya.
Pihak sekolah sebelumnya telah mengingatkan agar identitas anak yang berkaitan dengan perkara tidak disebarluaskan.
Sekretariat DPRA juga telah memberikan klarifikasi terhadap informasi yang mengaitkan anak pimpinan DPRA dengan kasus tersebut.
Cyberbullying dan Dampaknya terhadap Anak
Risiko penyebaran informasi mengenai anak tidak berhenti pada persoalan reputasi.
Komentar