Berdasarkan catatan sejarah perkebunan, Abah Uci menempuh pendidikan di SR Malabar pada masa kepemimpinan Administratur Van Deer Meer (1945–1948) hingga Administratur Brewer (1955–1958). Sementara generasi sebelumnya dalam keluarganya diperkirakan telah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut sejak masa kepemimpinan KAR Bosscha dan para administratur penerusnya.
Pada awal berdirinya, sekolah ini hanya memiliki empat ruang belajar sederhana berukuran 5 x 6 meter. Bangunannya berdinding bilik bambu dengan lantai kayu jati yang kokoh. Di ruang-ruang sederhana tersebut, para murid belajar menggunakan sabak dan gerip dengan beralaskan tikar.
Seiring berjalannya waktu, sekolah ini berkembang dan melahirkan banyak lulusan yang tidak hanya bekerja di lingkungan perkebunan, tetapi juga melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bandung.
Perjalanan sekolah ini turut mencerminkan dinamika sejarah Indonesia. Dari Vervoloog Malabar pada masa kolonial, berubah menjadi Sekolah Rendah setelah kemerdekaan, kemudian Sekolah Rakyat (SR), hingga kini berstatus sebagai Sekolah Dasar Negeri (SDN).
Pada tahun 1955, manajemen perkebunan menambah tiga ruang permanen untuk mendukung kebutuhan administrasi dan pembelajaran akibat meningkatnya jumlah siswa. Meski perannya kemudian berkurang setelah berdirinya SDN Malabar 4 pada tahun 1982, keberadaan sekolah bersejarah ini tetap menjadi simbol penting perjalanan pendidikan masyarakat perkebunan di tanah Priangan.
Melalui PTPN I sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, komitmen untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah tersebut terus dilakukan agar nilai-nilai perjuangan, pendidikan, dan kepedulian sosial yang telah diwariskan lintas generasi tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini maupun masa depan.(Adv)*
Komentar