Untuk sesaat, mereka tidak lagi tampak seperti dua orang asing.
Mereka terlihat seperti bagian gelap dari diriku sendiri.
“Oya... aku baru ingat.”
Suaraku mengecil.
“Jika hari itu aku memilih menunduk, menelan semua penghinaan, dan membiarkan diriku menjadi kosong di meja kantor itu, mungkin aku tidak akan pernah sampai di neraka putih ini.”
Ingatan itu datang kembali.
Hari ketika semuanya bermula.
Langit di luar kantor mendung.
AC ruangan kembali rusak.
Udara terasa pengap, bercampur bau keringat, uang, dan keputusasaan yang bersembunyi di balik kemeja-kemeja formal.
Di ujung ruangan, di balik sebuah meja, duduklah dia.
Kabanov.
Bosku.
Pria yang selama bertahun-tahun menjadi simbol dari segala hal yang kubenci.
Aku membawa map hitam berisi laporan audit.
Komentar