Aku didorong masuk ke ruangan itu dengan kasar oleh sipir hingga tubuhku terjungkal.
Katanya,
“Jangan lupa untuk berpikir mengapa bajingan seperti kau ada di sini, F000.”
Aku terdiam.
Bukan karena takut.
Namun, pada detik itu, aku justru sadar bahwa aku sedang menertawakan kebodohanku sendiri.
Cklek.
Pintu terkunci rapat.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehampaan sebesar ini.
Kesunyian seolah hadir untuk menelan ruangan tersebut bulat-bulat.
Aku berusaha bertahan, meski semuanya terasa sia-sia.
Sudah berapa lama aku berada di sini?
Pertanyaan itu terus muncul setiap kali aku berdiam diri.
Belum tiga jam berada di tempat terkutuk ini, tetapi sudah begitu banyak suara berdengung di kepalaku yang kosong.
Mataku tertuju pada sebotol air mineral yang tergeletak di lantai putih.
Komentar