Aroma alkohol dan asap rokok melekat pada tubuhnya.
Ia menyerupai seorang pekerja kantoran yang telah terlalu lama berhadapan dengan kehidupan.
Sementara sosok kedua tampak sebaliknya.
Rambutnya acak-acakan.
Pakaiannya longgar.
Dan ia terus tersenyum seolah dunia tidak pernah memiliki masalah.
Dengan santai ia berkata,
“Kau pikir dinding akan merasa kasihan hanya karena kau merusak kepalamu?”
Ia terkekeh.
“Dinding ini bahkan tidak peduli, Lukyan. Dan yang paling lucu, kau mulai lupa kapan terakhir kali kau memanggil namamu sendiri.”
Sialan.
Mengapa ia menyebut nama itu?
Nama yang sudah lama terkubur dalam dokumen kantor.
“Tidak,” jawabku pelan.
Suaraku serak.
Komentar