Bagiku, itu terdengar seperti vonis.
Saat itu seluruh perjalanan hidupku seperti berputar cepat di kepala.
Sekolah pagi-pagi.
Kuliah sambil menahan lapar.
Berdesakan di kereta.
Menatap layar sebelas jam sehari.
Pulang ke apartemen sempit.
Tidur.
Lalu mengulang semuanya keesokan hari.
Sebuah siklus.
Siklus yang seolah tidak pernah memiliki akhir.
Dan untuk pertama kalinya aku bertanya:
Apakah ini benar-benar hidup?
Apakah inilah yang disebut keberadaan manusia?
“Lukyan, kenapa kau diam?”
Kabanov kembali membentak.
Tahan.
Itulah suara yang terus terdengar di kepalaku.
Namun sesuatu dalam diriku memilih jalan lain.
Komentar