Seputar Publik / Opini

Dari Rival Menjadi Sekutu: “Strategi Othello” Prabowo dalam Konsolidasi Politik Indonesia

Oleh: Teguh Santosa
Teguh Santosa Direktur Geopolitik di GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, juga Ketua Umum JMSI. Teguh Santosa Direktur Geopolitik di GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, juga Ketua Umum JMSI.

Seputarpublik.com || JAKARTA — Metafora catur kerap digunakan untuk membaca manuver elite politik Indonesia: siapa menyingkirkan siapa, bidak mana yang dikorbankan, dan bagaimana sebuah kemenangan politik diraih.

Namun, menurut Teguh Santosa, membaca kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan strategi konsolidasinya semata-mata melalui perspektif catur dapat membawa pada kesimpulan yang kurang tepat.

Ia menawarkan metafora lain, yakni permainan Othello, untuk melihat bagaimana Prabowo membangun konsolidasi politik setelah Pemilihan Presiden 2024.

Dalam permainan Othello, kekuatan tidak semata ditentukan dengan mengeliminasi lawan. Bidak lawan yang berhasil diapit justru dapat dibalik menjadi warna sendiri.

Dinamika tersebut, menurut Teguh, memiliki kemiripan dengan pendekatan politik big tent atau tenda besar yang diterapkan Prabowo dengan merangkul sejumlah kekuatan yang sebelumnya berada di luar pemerintahan.

Dari Rival Politik Menjadi Bagian dari Koalisi

Tulis Komentar

Komentar