Seputar Publik / Opini

Dari Rival Menjadi Sekutu: “Strategi Othello” Prabowo dalam Konsolidasi Politik Indonesia

Oleh: Teguh Santosa
Teguh Santosa Direktur Geopolitik di GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, juga Ketua Umum JMSI. Teguh Santosa Direktur Geopolitik di GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, juga Ketua Umum JMSI.

Teguh juga melihat perluasan struktur kabinet tidak semestinya secara otomatis dipahami sebagai pembagian kekuasaan tanpa arah. Menurutnya, struktur tersebut dapat dipandang sebagai upaya diferensiasi fungsi untuk menghadapi tantangan pembangunan dan perubahan global yang semakin kompleks.

Strategi “Othello” di Panggung Global

Metafora Othello juga digunakan Teguh untuk membaca strategi luar negeri Prabowo.

Menurutnya, Indonesia tidak seharusnya menjadi “pion” pasif dalam persaingan kekuatan besar, khususnya antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Sebaliknya, Indonesia dinilai perlu mengamankan posisi strategisnya sendiri agar tidak mudah didikte oleh kekuatan mana pun.

Pendekatan tersebut, menurut Teguh, terlihat dari kombinasi orientasi ekonomi ke Timur dan postur keamanan yang tetap menjalin hubungan dengan Barat.

Di satu sisi, Indonesia memperdalam kerja sama dengan Tiongkok dalam bidang ekonomi, transfer teknologi industri, investasi sektor hilir, serta pembangunan infrastruktur strategis.

Tulis Komentar

Komentar