Di sisi lain, Indonesia juga memperkuat modernisasi pertahanan dan interoperabilitas dengan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya.
BRICS hingga OECD
Teguh juga menyoroti posisi Indonesia yang aktif di berbagai forum internasional.
Indonesia telah menjadi anggota BRICS yang selama ini merepresentasikan kelompok negara berkembang dan negara-negara Global South. Pada saat yang sama, Indonesia juga menjalani proses aksesi ke Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Menurut Teguh, langkah tersebut menunjukkan upaya Indonesia menjaga ruang gerak strategis di tengah konfigurasi geopolitik dunia yang semakin kompleks.
Pendekatan serupa juga terlihat dalam keterlibatan Indonesia pada isu konflik Palestina. Teguh menyoroti peran aktif Indonesia dalam berbagai inisiatif perdamaian, termasuk keterlibatan dalam Board of Peace, sembari tetap berpartisipasi dalam forum pertahanan global seperti IISS Shangri-La Dialogue.
Menurutnya, posisi tersebut menunjukkan upaya Indonesia untuk berperan aktif dalam penyelesaian konflik tanpa harus menempatkan diri sebagai bagian dari salah satu blok kekuatan besar.
Mengubah Rivalitas Menjadi Kekuatan Politik
Pada akhirnya, metafora “Othello politik” yang ditawarkan Teguh Santosa memberikan perspektif bahwa kekuasaan tidak selalu dibangun melalui penghilangan atau pengucilan lawan.
Sebaliknya, kekuatan politik dapat dibangun melalui kemampuan mengubah energi rivalitas menjadi bagian dari konsolidasi dan stabilitas pemerintahan.
Namun, strategi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan.
Konsolidasi politik yang terlalu luas tetap perlu diimbangi dengan ruang kritik, pengawasan, transparansi, dan mekanisme checks and balances yang efektif.
Dengan demikian, keberhasilan strategi “Othello” tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak rival politik yang berhasil dirangkul, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara stabilitas pemerintahan dan kesehatan demokrasi.
Dalam perspektif tersebut, politik Othello bukan sekadar tentang membalik warna bidak, melainkan tentang bagaimana kekuasaan mengelola perbedaan tanpa menghilangkan ruang kritis yang menjadi bagian penting dari demokrasi.
* Penulis : Teguh Santosa adalah seorang Direktur Geopolitik di GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Komentar