Seputar Publik / Opini

Dari Rival Menjadi Sekutu: “Strategi Othello” Prabowo dalam Konsolidasi Politik Indonesia

Oleh: Teguh Santosa
Teguh Santosa Direktur Geopolitik di GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, juga Ketua Umum JMSI. Teguh Santosa Direktur Geopolitik di GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, juga Ketua Umum JMSI.

Teguh juga menyoroti langkah merangkul Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang menurutnya dapat dipandang sebagai bagian dari upaya mencegah terbentuknya oposisi ideologis yang solid di parlemen.

Sementara terhadap PDI Perjuangan (PDI-P), Prabowo dinilai tidak mengambil pendekatan isolasi sebagai terhadap rival politik. Saluran komunikasi tingkat tinggi tetap dijaga.

Teguh mengaitkan hal tersebut dengan pernyataan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang menolak penggunaan label “oposisi” dan memilih istilah “penyeimbang” dalam menggambarkan posisi politik partainya.

Mengamankan “Petak Sudut” Politik

Dalam permainan Othello, pemain tidak hanya mengejar penguasaan wilayah di tengah papan, tetapi juga berusaha mengamankan empat petak sudut. Begitu sebuah sudut dikuasai, posisinya bersifat permanen dan tidak dapat dibalikkan.

Menurut Teguh, pendekatan tersebut dapat dianalogikan dengan fokus Prabowo dalam mengamankan sejumlah pilar strategis pemerintahan.

Tulis Komentar

Komentar